Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Kisah Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Kisah Menarik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

Mendoakan Orang Lain



Seperti biasa, pada sepertiga malam terakhir, Sayyidah Fathimah — putri kesayangan Rasulullah saw senantiasa melaksanakan shalat tahajud di rumahnya. Terkadang, ia menghabiskan malam-malamnya dengan qiamu lail dan doa. Hasan bin Ali, putranya, sering mendengar munajat sang bunda.

Suatu pagi, ketika Sayyidah Fathimah selesai berdoa, Hasan kecil bertanya, "Ya Ummi, dari tadi, aku mendengarkan doamu, tetapi tak satu pun doa yang kau panjatkan untuk dirimu sendiri?"

Fathimah menjawab dengan lembut, "Nak, doakan dulu tetanggamu karena ketika para malaikat mendengarkanmu mendoakan tetanggamu, niscaya mereka akan mendoakanmu. Adakah yang lebih baik daripada doa para malaikat yang dekat dengan Allah, Tuhan kita?"

Apabila salah seorang mendoakan saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui oleh yang didoakan, para malaikat berkata, "Amin, semoga engkau memperoleh pula sebagaimana yang engkau doakan itu." (HR Muslim dan Abu Dawud)


Redaktur  : Gustian Pa.H
Sumber    : CIM

Pelajaran dari Ibrahim


Nabi Ibrahim Khalilullah pernah memanjatkan doa di tempat penggembalaan ternaknya di sebuah bukit di Baitul Maqdis. Lalu, dia bertemu dengan seorang laki-laki ahli ibadah. Kemudian, terjadilah dialog di antara keduanya.


Ibrahim bertanya, "Hari apakah yang paling mulia?"

Ahli ibadah itu menjawab, "Hari pembalasan, ketika manusia dibalas, antara yang satu dan sebagian yang lain."

"Apakah engkau bisa mengangkat tanganmu untuk berdoa, sedangkan aku sendiri juga mengangkat tangan mengaminkan doamu agar kita dihindarkan dari kesengsaraan hari itu?" ungkap Ibrahim.

"Janganlah engkau mengharapkan doaku. Demi Allah, aku pernah berdoa sejak tiga puluh tahun silam, tetapi sampai sekarang doaku belum dikabulkan," jawabnya.

"Apakah engkau mau kuberitahu tentang sesuatu yang mengekang doamu?"

"Ahli ibadah itu menjawab, "Ya."

"Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan menahan doanya agar dia selalu bermunajat, mengiba, dan memohon kepada-Nya. Sementara, jika Dia marah kepada seorang hamba, niscaya Dia akan cepat mengabulkan doanya atau menghunjamkan keputusasaan di dalam hatinya."
Jika doa seorang hamba selalu dikabulkan setiap kali dia meminta, ketahuilah dia bukanlah hamba lagi. Dia diperintahkan berdoa karena dia seorang hamba dan Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. (Al Syaikh Al Baha'i)

Redaktur  : Gustian Pa.H
Sumber    : CIM 

Doa Seorang Pemburu


Suatu pagi, seorang laki-laki pergi hendak berburu mencari rezeki yang halal. Namun, sampai hampir malam, ia belum mendapatkan satu pun binatang buruan. la lalu berdoa sepenuh hati, "Ya Allah, anak-anakku menunggu kelaparan di rumah, berilah aku seekor binatang buruan."

Tidak lama setelah doanya selesai ia panjatkan, Allah memberikannya rezeki: jala yang dibawa pemburu itu mengenai seekor ikan yang sangat besar. la pun bersyukur kepada Allah dan pulang ke rumah dengan penuh bahagia.

Di tengah perjalanan pulang, ia bertemu dengan kelompok raja yang hendak berburu juga. Raja heran dan takjub luar biasa begitu melihat ikan sebegitu besar yang dibawa pemburu itu. Lalu, ia menyuruh pengawal untuk mengambil ikan itu secara paksa dari tangan sang Pemburu.

Dibawanya ikan itu pulang dengan bahagia. Ketika sampai di istana, ia keluarkan ikan itu dan bolak-balik sambil tertawa ria, tiba-tiba, ikan itu mengigit jarinya dan mengakibatkan badannya jadi panas dingin sehingga malam itu Raja tidak dapat tidur.

Dihadirkanlah seluruh dokter untuk mengobati sakitnya. Semua dokter menyarankan agar jarinya itu dipotong untuk rnenghindari tersebarnya racun ke anggota badan lainnya. Raja pun menyetujui nasihat mereka. Namun, setelah jarinya dipotong, ia tetap tidak dapat istirahat karena ternyata racun itu telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Para dokter pun menyarankan agar pergelangan tangan raja dipotong dan Raja pun menyetujuinya. Namun, setelah pergelangan tangannya dipotong, tetap saja Raja tidak dapat memejamkan matanya, bahkan rasa sakitnya makin bertambah. la berteriak dan meringis dengan keras karena racun itu telah merasuk dan menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Seluruh dokter akhirnya menyarankan agar tangan Raja sampai siku dipotong, Raja pun menyetujuinya. Setelah lengannya dipotong, sakit jasmaninya kini telah hilang, tetapi diri dan jiwanya tetap belum tenang. Semua dokter akhirnya menyarankan, agar Raja dibawa ke seorang dokter jiwa (ahli hikmah).

Dibawalah sang Raja menemui seorang dokter jiwa dan diceritakan seluruh kejadian seputar ikan yang ia rebut dari pemburu itu.

Mendengar itu, ahli hikmah berkata, "Jiwa Tuan tetap tidak akan tenang selamanya sampai pemburu itu memaafkan dosa dan kesalahan yang telah Tuan perbuat."
Dicarinya pemburu itu dan setelah didapatkan, Raja menceritakan kejadian yang dialaminya dan ia memohon agar si Pemburu itu memaafkan semua kesalahannya. Si Pemburu pun memaafkannya dan keduanya saling berjabat tangan.

Sang Raja penasaran ingin mengetahui apa yang dikatakan si Pemburu ketika Raja mengambil paksa ikannya. la bertanya, "Wahai pemburu, apa yang kaukatakan ketika prajuritku merampas ikanmu itu?"

Pemburu itu menjawab, "Tidak ada kecuali aku hanya mengatakan, 'Ya Allah, sesungguhnya dia telah menampakkan kekuatannya kepadaku, perlihatkanlah kekuatan-Mu kepadanya!"'

Sungguh, doa orang teraniaya sangat mustajab maka berhati-hatilah dalam bertindak.


Redaktur  :  Gustian Pa.H

Kisah Inspirasi Islami | Setia Sepanjang Usia


Disebuah rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga. Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka....

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang tadi dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri “Kenapa Bu?”
Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”.

“Ya udah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati.

Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.

Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.

“Bagaimanapun usahaku untuk berterimakasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya.

Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang, kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….

Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.

Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam “Terimakasih ya, Bu ”.

“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu.

“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tau semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus.

Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri “Bapa kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa.

Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,

Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.

Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahyat terakhir.

Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.

“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada.

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal.

Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri. Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,

Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.

Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya. Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.

“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir,Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”

Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata “Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri.. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapa sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."

Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman.
Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….


Redaktur  : Gustian Pa.H

Selasa, 14 Mei 2013

Kisah Keislaman Seorang Petinju Dunia, Mike Tyson



Selama 3 tahun di penjara atau setengah dari masa hukuman yang dijatuhkan padanya yaitu 6 tahun membantu Tyson untuk berpikir keras dalam memeluk Islam, di dalam kesunyian penjara ia mendapatkan kesempatan yang besar untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya di dalam ring tinju maupun di luar itu. setelah mempelajari islam ia berkeinginan keras untuk memeluknya, baginya agama ini akan membantu menyelesaikan semua problem hidupnya. Dari sinilah Tyson memulai perjalanan spiritualnya yang telah menghantarkannya untuk memeluk Islam.

Ketika Tyson menjalani hukuman di penjara Indiana khusus untuk para remaja, ia banyak mempelajari pelajaran-pelajaran Islam secara intensif melalui seorang guru muslim yang bernama Muhammad Shadiq. Setelah ia memeluk Islam, Tyson memilih nama barunya yaitu Malik Abdul Aziz dengan asumsi bahwa nama Malik adalah nama islam yan mirip dengan Mike.

Menurut beberapa media informasi amerika, masuknya Tyson ke dalam Islam sama persis seperti masuk islamnya Muhammad Ali pada tahun 60-an. Ketika Muhammad Ali masuk islam dengan segera ia merubah namanya dari Casius Clay menjadi Muhammad Ali.

Ketika ia mendengar berita masuk islamnya Mike Tyson pada tahun 1993, Muhammad Ali berkata,  "aku 100% mendukungnya, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikannya hidayah kepada Islam, Dialah yang berhak untuk disyukuri dan dipuji yaitu Allah SWT.

Sebenarnya Tyson telah menghimbau media-media informasi Amerika untuk memanggilnya dengan nama barunya Malik abdul Aziz dan ia pun telah memberitahukan pada penjaga penjara pada tahun 1993 bahwa ia telah memeluk Islam sejak satu bulan. Dalam hal ini ia mengikuti jejak Muhammad Ali.

Tyson berkata bahwa ia masuk penjara bukan berarti semuanya buruk, tapi di dalamnya juga ada kebaikan, di mana ia diberi kesempatan untuk mendapatkan ketenangan diri dan kesucian hati, dan hal itu dengan membaca Al-Qur'an dan mempelajari prinsip-prinsip ajaran Islam. Tyson mulai menerima pelajaran dan nsehat-nasehat secara kontinyu dari ustadz  Muhammad Shadiq dalam beberapa bulan.

Tyson mengenang kesombongan dan keangkuhan yang menjadi tujuan hidupnya dengan mematahkan batang hidung musuhnya di dalam ring tinju. setelah melangkahkan kedua kakinya pada langkah yang pertama di luar pagarpenjara Indiana, ia memutuskan untuk menuju masjid terdekat untuk melaksanakan shalat sebagai rasa syukur dan puji kepada-Nya yang telah menunjukinya kepada Islam.

Ketika pertandingan tinju dalam masa penantian, Donking promotor petinju-petinju dunia sangat marah dan kesal karena hukuman yang ditimpakan kepada Tyson di dalam penjara selama 3 tahun dan bnyak orang bertanya-tanya tentang siapa petinju baru yang akan menantang Tyson, di saat Tyson sendiri sibuk dengan urusan-urusan yang lain. di antara kesibukannya adalah mengintrospeksi dan mengevaluasi perjalanan hidupnya setelah ia masuk islam dalam penjara.

 Dan di antara orang-orang yang mengunjungi Tyson saat masih di penjara adalah Edi Mustafha Muhammad seorang pelatih tinju, dia juga telah memeluk Agama Islam. Edi telah merih juara tinju ketika namanya masih bernama Edi Gargory pada tahun 1980. Edi melihat Mike Tyson kini menjadi seorang yang rendah hati, ketika ia memberi salam padanya.

Muhammad berkata, "sesungguhnya Islam telah memberi tujuan dan jalan hidup kepada Tyson. Dan aku bertemu dengannya setiap sabtu pagi untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dari sana masing-masing dari kita pergi menuju tujuannya. Aku pergi ke sana bukanuntuk mencari pekerjaan, tapi aku pergi kepadanya sebagai seorang saudara."

Muhammad menambahkan, "Donking, promotor pertandingan tinju merasa keberatan kepada Tyson ketika ia berdiam diri di masjid yang terdekat dari penjara tersebut. King dan pelatih Tyson selalu bertentangan sejak lama, King menginginkan Tyson untuk lansgsung menuju Bandara karena di sana terdaapat pesawat khusus yang menantinya dan membawanya menuju Chevland."

Lois juga  berkata, "ini bukanlah hal yang baru tentang King, ia ingin menguasai secara penuh kehidupan Tyson, tetapi Tyson tidak berkenaan dengan hal itu. Sesungguhnya jika Allah SWT berkehendak menjadilan Tyson untuk shalat di dalam mesjid itu, maka iapun akan menjadikannya untuk shalat di dalamnya. sesungguhnya kehendak Allah SWT telah mendahukui atas ciptaannya."


Tyson telah memberitahukan kepada Louis bahwa dirinya sangat gelisah untuk kembali ke ring tinju. Setelah memeluk Islam, Tyson menjadi orang yang penyayang dan lebih rendah hati serta terhormat. Diapun menemukan kesabaran dan hiburan di dalam shalat lima waktu, serta istiqamah di dalam menjalankan perintah-perintah allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, agar ia menjadi seorang muslim yang memiliki keimanan yang benar dan ikhlas di dalam keislamannya serta patuh kepada Rabbnya semata-mata berharap Ridha dan ampunyan-Nya.


Subhanllah, semoga Mike Tyson akan selalu beristiqamah di jalan Allah dan ditetapkan Iman yang kuat di dalam hatinya. (Amin ya Rabbal 'Alamin)



Redaktur   : Gustian Pa.H
Sumber      : riskafajrulummi
Diberdayakan oleh Blogger.