Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

Resep Mesra Ala Rasulullah

Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Berikut beberapa tips untuk menjaga kemesraan yang dikompilasi dari hadis-hadis dan riwayat yang menceritakan Rasulullah SAW.
1. Suami membukakan pintu untuk istrinya, baik di kendaraan, rumah, maupun yang lain
Istilah yang cukup akrab di telinga kita, yang katanya orang-orang modern ini “Ladies First” ternyata sudah dilakukan Rasulullah sejak berabad-abad yang lalu, disaat kebudayaan lain di dunia menganggap wanita lebih rendah, bahkan diragukan statusnya sebagai “manusia”.
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)
2. Mencium istri ketika pergi dan datang
Sungguh hal yang romantis dan bisa menimbulkan rasa kasih sayang jika kita bisa membiasakan mencium istri/suami ketika hendak bepergian atau baru pulang.
Dari ‘Aisyah ra, bahwa NabiSAW biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi  wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)
3. Makan/minum sepiring/segelas berdua
Dari Aisyah RA, ia berkata : Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam “ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)
Dari Aisyah Ra, ia berkata : Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)
Nabi saw pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah.(HR Muslim No. 300)
Bahkan keberkahannya dijamin,
Diriwayatkan Abu Hurairah : “Makanan berdua cukup untuk tiga orang, makanan tiga orang cukup untuk empat orang” ( HR Bukhori (5392) dan Muslim (2058))
4. Suami menyuapi istri
Dari Saad bin Abi Waqosh ra berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “Dan sesungguhnya jika engkau  memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu“ (HR Bukhori (VI/293) dan Muslim (V/71)
5. Berlemah lembut, melayani/menemani istri yang sedang sakit (memanjakan istri sakit)
Diriwayatkan oleh Aisyah ra, nabi SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)
6. Bersenda gurau dan membangun kemesraan
Aisyah dan Saudah pernah saling melumuri muka dengan makanan. Nabi SAW tertawa melihat mereka. (HR Nasai dengan isnad hasan)
Dari Zaid bin Tsabit berkata tentang Rasulullah : suka bercanda dengan istrinya (HR Bukhari)
7. Menyayangi istri dan melayaninya dengan baik
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).
8. Memberi hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi SAW menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.” Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)
9. Tetap romantis walau istri sedang haid
Haid, adalah sesuatu yang alamiah bagi wanita. Berbeda dengan pandangan kaum Yahudi, yang menganggap wanita haid adalah najis besar dan tidak boleh didekati.
Ketika Aisyah sedang haid, Nabi SAW pernah membangunkannya, beliau lalu tidur dipangkuannya dan membaca Al Qur’an (HR Bukhari no 7945)
10. Mengajak istri makan di luar
Mungkin kebanyakan kita, lebih suka pergi bersama teman-teman, meninggalkan istri di rumah. Nah yang ini mungkin familiar, saya suka bilang ama istri “nge-date” yuk! ini bisa membangkitkan romantisme berdua. Menikmati lingkungan disekitar.
Anas mengatakan bahwa tetangga Rasulullah SAW -seorang Persia- pintar sekali membuat masakan gulai. Pada suatu hari dia membuatkan masakan gulai yang enak untuk Rasulullah SAW. Lalu dia datang menemui Rasululiah SAW untuk mengundang makan beliau. Beliau bertanya: “Bagaimana dengan ini? (maksudnya Aisyah).” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah SAW berkata: “(Kalau begitu) aku juga tidak mau.” Orang itu kembali mengundang Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah kembali berkata: “Kalau begitu, aku juga tidak mau.” Kemudian, orang itu kembali mengundang Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. kembali bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Pada yang ketiga kalinya ini orang Persia itu mengatakan: “Ya.” Akhirnya mereka bangun dan segera berangkat ke rumah laki-laki itu.” (HR Muslim)
11. Mengajak istri jika hendak ke luar kota.
Biasanya para suami, kalau ada tugas ke luar kota, hal-hal seperti ini dijadikan kesempatan. Tapi tak ada salahnya kalau rejeki kita cukup, kita ajak istri kita pergi juga, tinggal bilang sama bos (syukur-syukur kalau bos mau bayarin hehehe..), kalo saya biasanya biaya sendiri.
Aisyah berkata: “Biasanya Nabi saw. apabila ingin melakukan suatu perjalanan, beliau melakukan undian di antara para istri. Barangsiapa yang keluar nama/nomor undiannya, maka dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah saw.’ (HR Bukhari dan Muslim)
12. Menghibur diri bersama istri ke luar rumah (entertainment)
Dari Aisyah, dia berkata: “Pada suatu hari raya orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi saw. sendiri yang berkata padaku: ‘Apakah aku ingin melihatnya?’Aku jawab: ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakangnya. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata: ‘Teruskan main kalian, wahai Bani Arfidah (julukan orang-orang Habsyah)!’ Hingga ketika aku sudah merasa bosan beliau bertanya: ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku jawab: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Kalau begitu, pergilah!’” (HR Bukhari dan Muslim)
13. Mencium istri sering-sering
Mencium istri dengan penuh kasih sayang, sangatlah mulia dan romantis. Berbeda dengan ciuman yang dilakukan karena nafsu seperti di film-film yang kebanyakan ada di layar kaca.
Nabi saw sering mencium Aisyah dan itu tidak membatalkan puasa (HR Nasai dalam Sunan Kubra II/204)
14. Suami mengantar istri
Kadang banyak dari kita malas mengantar istri kita bepergian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika istri saya keluar rumah sendirian, ada masalah di jalan dia kebingungan.
Shafiyyah, istri Nabi SAW, menceritakan bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah saw. ketika beliau sedang melakukan i’tikaf pada hari sepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan. Dia berbicara dekat beliau beberapa saat, kemudian berdiri untuk kembali. Nabi saw. juga ikut berdiri untuk mengantarkannya.” (Dalam satu riwayat492 dikatakan: “Nabi SAW berada di masjid. Di samping beliau ada para istri beliau. Kemudian mereka pergi (pulang). Lantas Nabi saw. berkata kepada Shafiyyah binti Huyay: ‘Jangan terburu-buru, agar aku dapat pulang bersamamu’”) (HR Bukhari dan Muslim)
15. Suami istri berjalan dimalam hari
Duh, so sweet.. Jalan berdua menikmati keindahan alam.
Rasulullah datang pada malam hari, kemudian mengajak aisyah berjalan-jalan dan berbincang-bincang (HR Muslim 2445)
16. Panggilan khusus pada istri
Kadang kita memanggil istri kita, honey, yayank, dan seterusnya, dan seterusnya.. seperti itu pun Rasulullah.
Nabi saw memanggil Aisyah dengan Humairah artinya yang kemerah-merahan pipinya. Rasulullah juga suka memanggil aisyah dg sebutan “aisy/aisyi”, dalam culture arab pemenggalan huruf terakhir menunjukan “panggilan manja/tanda sayang”
17. Memberi sesuatu yang menyenangkan istri
Dari Said bin Yazid, bahwa ada seorang wanita datang menemui Nabi, kemudian Nabi bertanya kepada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau kenal dia?” ‘Aisyah menjawab: “Tidak, wahai Nabi Allah.” Lalu, Nabi bersabda: “Dia itu Qaynah dari Bani Fulan, apakah kamu mau ia bernyanyi untukmu?”, maka bernyanyilah qaynah itu untuk ‘Aisyah. (HR. An Nasa’i, kitab Asyratun Nisa’, no. 74)
18. Memperhatikan perasaan istri
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)
19. Segera menemui istri jika tergoda.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)
20. Berpelukan saat tidur
Tidak saya deskripsikan, soalnya ada yang belum merid lho? (HR Tirmidzi 132)
21. Membantu pekerjaan rumah tangga
Hal inilah yang kadang-kadang masih males. Tapi jika dikerjakan berdua, biasanya jadi tidak berasa, sambil becanda ataupun ngobrol-ngobrol.
Aisyah pernah ditanya: “Apa yang dilakukan Nabi saw. di rumahnya?” Aisyah menjawab: “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari)
22. Mengistimewakan istri
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah.” (HR Bukhari)
23. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)
24. Tiduran di pangkuan istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi SAW biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)
Aisyah pernah mandi satu bejana bersama Nabi saw (HR Nasai I/202)
26. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw,saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)
27. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalusaya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)
28. Membelai istri
“Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiridan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)
Dan masih banyak tips lain yang bisa dilakukan sesuai kreatifitas Anda semua.
Nabi saw bersabda, “Yang terbaik di antana kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku” (HR Tirmidzi).
Semoga bermanfaat. Semoga menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, wa rohmah selalu. Amin..


Redaktur : Gustian Pa.h
Sumber: Martin Wong

Membangun Karakter Anak Sebagai Seorang Hamba Muslim yang Beriman

Segoblok-gobloknya orang tua, pastinya mereka tidak mau anaknya kelak sama gobloknya dengan mereka...mereka ingin anaknya lebih dari mereka, tapi bukan lebih goblok ya... heheheheh"

Sepenggal kalimat, fakta dari para orang tua, moms and dads. Ketika anak terlahir kedunia, diibaratkan seperti kain putih yang polos. Tugas moms and dads, mau di kasih warna atau corak seperti apa kain polos tersebut?

Sebagai seorang muslim, mutlak bagi moms and dads untuk menjadikan atau membentuk anak kita kelak menjadi seorang muslim juga. Dan itu wajib hukumnya bagi moms and dads.

Pembentukan karakter anak kita, dimulai dari rumah, termasuk dari interaksi di dalam rumah itu sendiri, interaksi si anak dengan moms and dads.

Memiliki anak dengan kemampuan serba bisa dan mandiri merupakan keinginan semua orangtua di dunia. Namun, untuk memiliki anak yang memiliki rasa percaya diri untuk bisa melakukan berbagai macam hal positif, bukanlah cara yang mudah. Sebagian besar si anak memiliki keyakinan dan kemauannya sendiri untuk melakukan hal postitif.
Untuk itu orangtua sebaiknya mengetahui cara membangun karakter anak agar dapat memiliki rasa percaya diri yang kuat sehingga bisa melakukan banyak hal positif dan selalu bisa melakukan apapun. Lantas, bagaimana cara mendidik anak yang baik agar anak memiliki rasa percaya diri seperti yang ditulis oleh GALtime. Berikut tipsnya:

Temukan kemampuan unik pada anak
Ada banyak kesempatan untuk membantu anak-anak menemukan bakat dan kemampuannya. Hal ini memang terlihat sederhana, namun terbukti mampu membantu anak lebih percaya diri dan mampu mengembangkan bakat mereka. Semakin anak-anak mampu mengenali kemampuan unik mereka, akan semakin tinggi kepercayaan diri yang mereka miliki. Bantu anak menyadari kemampuannya sendiri tanpa memaksanya melakukan hal yang tidak diinginkan, dan hentikan membandingkan kemampuan mereka dengan saudara lainnya.

Apresiasikan prestasi khusus dan hasil kerja keras mereka
Rahasia kedua yang dapat orangtua pelajari bahwa tidak ada yang dapat membangkitkan kepercayaan diri dibanding dengan sebuah penghargaan atau perayaan atas prestasi anak. Hargai setiap usaha dan prestasi yang dicapai anak, sekecil apapun itu. Buat catatan kecil atau jurnal yang mencatat keberhasilan anak-anak mencapai sesuatu.

Fokus pada tindakan mereka, bukan pada penampilan
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terlalu banyak anak-anak terutama anak perempuan yang lebih berfokus pada penampilan dan bukan pada apa yang mampu mereka lakukan. Bantu anak-anak untuk lebih berfokus pada tindakan dan kegiatan positif lain yang bisa dilakukan ketimbang sekadar menonjolkan penampilan. Membicarakan tentang prestasi dan bukan berfokus pada penampilan, Anda membantu anak untuk mengembangkan keyakinan pribadi atas prestasi dan kemampuannya.
Puji anak dengan cara yang spesifik dan keyakinan yang positif
Semua orang menyukai pujian, tidak terkecuali anak-anak. Namun perlu diingat, tidak setiap pujian kecil bisa meningkatkan harga diri sang anak. Anda tentu juga tak ingin anak menjadi seseorang yang haus pujian. Ungkapkan pujian saat ia benar-benar menunjukkan bakatnya dengan baik, dan juga gunakan kata "karena" dalam pujian Anda sehingga menjadi lebih spesifik dan membangun kepercayaan diri anak. Hal ini menyebabkan anak akan percaya pada "pesan" dan mengadopsinya untuk membentuk keyakinan baru tentang kemampuan dirinya.

Tonjolkan sisi positif mereka, dan hilangkan sisi negative
Cara yang ampuh untuk membantu anak mengembangkan keyakinan diri yang lebih kuat adalah dengan mengajarkan self-talk positive. Tidak ada salahnya untuk sedikit membuat strategi dengan menonjolkan diri Anda tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri. Beri contoh kepada anak beberapa tindakan positif yang Anda banggakan dan kemudian akui perbuatan tersebut di depan anak. Hal ini bisa membantu anak untuk mengembangkan pikiran bahwa mereka pun mampu melakukan hal-hal yang awalnya mereka pikir tidak mampu mereka lakukan.

Membuat slogan keluarga “saya bisa melakukan”
Negatif dapat dengan cepat menjadi kebiasaan yang mematikan untuk mengembangkan sikap “can do”, sehingga hilangnya rasa kepercayaan diri dan kemampuan pada anak. Untuk itu tidak ada salahnya untuk menanamkan slogan positif “saya bisa melakukan” di keluarga sehari-hari. Ini merupakan cara sederhana namun efektif untuk mendorong anak supaya berpikir lebih positif tentang diri mereka sendiri. Adakah slogan yang mungkin akan Anda mulai dirumah?

Jangan selalu membantu mereka memecahkan masalahnya
Orangtua seringkali mencoba untuk membantu memecahkan berbagai permasalahan anak. Namun, berhati-hatilah melakukan hal ini, karena hal ini ternyata bisa membuat anak menjadi tidak mandiri dan selalu tergantung pada Anda. Ketrampilan menyelesaikan masalahnya sendiri memang dibutuhkan saat mereka sedang sendiri. Namun sebaiknya membantu mereka hanya ketika benar-benar diperlukan saja.

Bantu anak belajar dari kesalahannya
Setiap orang pasti sering membuat kesalahan, dan pasti Anda butuh kesempatan untuk memperbaikinya. Demikian pula dengan anak, Ketika mereka melakukan kesalahan, sebaiknya jangan menghakimi mereka, tapi bantu mereka untuk belajar dari kesalahannya. Setelah itu, bantu mereka untuk mencapai tujuannya.


Redaktur  : Gustian Pa.H
Sumber    : Faza Leonard

SOSOK AYAH DALAM ISLAM ?


Ini kisah seorang khadimat (pembantu) yang tinggal di sebuah keluarga. Ia merasa betah tinggal di rumah majikannya karena sudah dianggap bagian dari keluarga. Kepada suami-istri dan anak-anak majikannya, ia kerap bercerita tentang hidupnya. Ia menggambarkan betapa indah masa kecilnya dibesarkan oleh ayah-ibunya yang sangat menyayanginya.

Ia sering menceritakan sosok ayahnya dan bagaimana perlakuannya yang sangat memanjakannya. Sang ayah sering mengajaknya berjalan-jalan, bermain, membeli apa pun yang ia inginkan, dan mendongeng sebagai pengantar tidur. Ia masih mengingat sikap dan kata-kata ayahnya.

Waktu berlalu, sang khadimat sudah memiliki bekal cukup dan ingin menambah ilmu dengan memasuki sebuah pesantren. Ia pamit pada keluarga tersebut dan berkata, ”Ibu, Bapak, maafkan saya. Semua cerita tentang ayah saya itu tidak benar. Saya justru pernah mau dibunuh oleh ayah. Saya iri sama keluarga di sini yang begitu perhatian dan memuliakan anak-anak. Semoga Ibu dan Bapak memaafkan saya, dan Allah mengampuni kesalahan saya.”

Kisah lain yang menarik tentang ayah pernah terjadi di Spanyol. Karena berbulan-bulan tidak berhasil menemukan anak laki-lakinya yang lari dari rumah, seorang ayah memasang iklan di sebuah koran ibukota. Iklan itu berbunyi, ”Paco sayang, temui ayah di depan kantor surat kabar ini, jam 12 siang, hari Sabtu. Maafkan ayah, dan semuanya sudah aku maafkan. Aku mengasihimu. Ayahmu.”

Pada hari dan tanggal yang sudah ditentukan itu, ternyata datang 800 orang bernama Paco ke kantor surat kabar tersebut. “Mereka mencari kasih dan pengampunan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya,” demikian ucap George Herbert.

Dua kisah di atas menunjukkan tentang betapa pentingnya sosok seorang ayah. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang kehilangan kasih ayah dan tak ada sosok pengganti akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri, dan menjadi kriminal yang kejam. Sebuah statistik menunjukkan angka 70% dari penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang tumbuh tanpa ayah.

Lalu bagaimana dengan anak-anak yatim yang terlahir tanpa ayah atau anak dari pasangan yang bercerai, apakah masa depan mereka sudah dipastikan buruk?

Belum tentu. Kita ingat bagaimana perjalanan hidup Rasulullah. Beliau yatim, namun selalu ada sosok laki-laki dewasa yang memberikan teladan dan pendampingan yaitu kakek dan paman beliau yang sangat menyayanginya. Dengan demikian peran dan sosok ayah tetap ada, meski bukan ayah biologis.

Ahli pendidikan mengatakan bahwa ayah adalah peletak dasar pembangunan berbahasa dan berperan dalam membuka frontal lube (otak bagian depan) sehingga kelak anak mampu bersosialisai dengan baik di dunia luar. Hal itu berlaku baik untuk anak laki maupun perempuan.

Masihkah ada ayah yang menyerahkan sepenuhnya pengasuhan pada istrinya, sehingga berangkat ke tempat kerja sebelum anaknya bangun dan kembali setelah anaknya terlelap? Bagaimana dengan Anda?* 


Redaktur : Gustian Pa.H
Sumber  : Oleh Ida S Widayanti*
Penulis buku Mendidik Karakter dengan Karakter, SUARA HIDAYATULLAH JANUARI 2013

SOSOK IBU DALAM ISLAM??


Di dalam Islam, orang tua memiliki kedudukan yang mulia terutama kaum Ibu. Rasulullah bahkan telah menegaskan bahwa kedudukan seorang Ibu lebih tinggi dibandingkan kedudukan seorang ayah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra disebutkan :

Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku patuhi?", Kata Nabi, "Ibumu", lelaki itu bertanya lagi, "kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya lagi, "Lalu siapa lagi?", Nabi tetap menjawab, "Ibumu", Lelaki itu bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?", Nabi menjawab, "Ayahmu"....

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hadist tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa kecintaan dan kasih sayang seseorang terhadap Ibunya harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan kecintaan dan kasih sayang seseorang kepada Ayahnya. Realitas menguatkan pengertian ini :

Pertama : Seorang Ibu dihadapkan pada kesulitan dalam menjalani masa kehamilan. 
Kedua : Kaum Ibu mengalami kesulitan besar ketika menjalani proses melahirkan.
Ketiga : Kaum Ibu menjalani kesulitan saat menyusui dan merawat anak.

Terdapat sebuah kisah yang dinukil dari Kitab Adabul Mufrad yang bisa menjadi sebuah ilustrasi betapa kecilnya jasa seorang anak di hadapan Ibundanya. Berikut kisahnya :
'Sesungguhnya diriku adalah tunggangan Ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari'. Sayup-sayup syair pemuda Yaman itu timbul tenggelam di tengah gemuruh talbiyah. Ka'bah yang suci menjadi saksi bagaimana nafasnya tersengal-sengal dalam lelah lantaran di punggungnya terdapat seorang wanita tua. Pemuda yang baik itu memang sangat mencintai Ibunya sehingga ia rela menjadi tunggangan bagi puncak ibadah wanita yang dicintainya itu. Sesudahnya, diiringi keringat yang bercucuran, pemuda yang baik itu mendatangi Ibnu Umar. "Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepada Ibuku?". Ibnu Umar menjawab, "Engkau belum membalas budinya, walaupun hanya setarik nafas yang Ibumu keluarkan ketika beliau melahirkanmu ke dunia"

Sebagai anak, kita memang tidak mungkin bisa membalas jasa orang tua terutama jasa Ibu kita kepada anak-anaknya, sehingga Islam hanya mengajarkan untuk sedapat mungkin menghormati dan meninggikan kedudukan orang tua dengan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan orang tua terutama Ibu kita.

Begitu pentingnya peran seorang ibu sehingga Islam sangat memperhatikan kaum Ibu. Betapa Islam memuliakan mereka dan kita tidak akan menemukan perhatian dan pengayoman kepada kaum perempuan dalam tradisi dan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia.

Redaktur : Gustian Pa.H
Sumber referensi : sinichinet
Majalah Nurul Hayat Edisi 107 (Desember 2012)
Rubrik 'Hikmah Utama' hal. 6-9

Selasa, 14 Mei 2013

Membentuk Sebuah Keluarga Islam



Mukaddimah

Musuh-musuh Islam memang tidak menghendaki kaum Muslim berpegang teguh pada Islam secara utuh. Mereka tidak akan berdiam diri terhadap usaha kaum Muslim untuk menegakkan syariat Islam. Mereka berusaha keras untuk memisahkan kaum Muslim dari syariat Islam. Mereka terus berusaha mengaburkan syariat Islam dan mengikis sedikit demi sedikit syariat Islam dari kehidupan kaum Muslim. 

Ternyata usaha mereka membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit syariat Islam dipinggirkan oleh umatnya sehingga yang tinggal hanyalah peraturan yang berkaitan dengan ibadah ruhiyah (spiritual) dan kekeluargaan (munakahad). Namun, tidak cukup dengan itu, mereka juga terus berusaha untuk merosakkan hukum-hukum kekeluargaan  dalam rangka memusnahkan kehidupan keluarga Muslim yang masih tinggal.

Membina Keluarga Islam

Keluarga Islam adalah keluarga yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala, yang mana pemahaman asas anggotanya adalah hanya mencari keredhaan Allah Subhanahu wa Taala, dan yang di atur oleh peraturan-Nya. Setiap anggota keluarga Islam ini menjalankan hak dan kewajiban masing-masing sesuai dengan peraturan Allah Subhanahu wa Taala. Ketaatan ini dimulakan dari sejak awal, iaitu dari sejak menentukan kriteria pasangan hidup, proses memilih, khitbah (meminang), pernikahan, serta proses menjalani kehidupan rumahtangga, iaitu sentiasa berada di jalan kebenaran, jalan Allah Subhanahu wa Taala. 

Motivasi awal yang benar merupakan asas untuk membangun kehidupan rumahtangga yang kukuh. Dalam hal ini, Islam menetapkan bahwa motivasi seseorang melangsungkan kehidupan suami-isteri adalah untuk melaksanakan salah satu dari bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Taala. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan persahabatan antara seorang suami dan isterinya. Suami menjadi sahabat kepada isterinya dan isteri menjadi sahabat kepada suaminya secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Allah telah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami isteri, sebagaimana firman-Nya:

”Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untuk kalian isteri-isteri dari diri kalian sendiri—supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” [TQS Surah ar-Rum [30]: 21]. 

Bagaimana kita dapat membentuk keluarga yang sesuai dengan tuntutan Allah Subhanahu wa Taala, iaitu sebuah keluarga yang berasaskan ideologi Islam? 

Pertama, asas dari pernikahan tersebut adalah akidah Islam, bukan manfaat ataupun kepentingan.  Dengan menjadikan Islam sebagai landasan, maka segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga tersebut dirujuk kembali pada Islam.  

Kedua, adanya visi dan misi yang sama antara suami isteri tentang hakikat, tujuan hidup dan berkeluarga dalam Islam.  

Ketiga, memahami dengan benar fungsi dan kedudukan masing-masing dalam keluarga dan berusaha sedaya upaya menjalankannya sesuai dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya. 

Keempat,  menjadikan Islam dan syariatnya sebagai penyelesaian terhadap seluruh permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Halal dan haram dijadikan landasan dalam melakukan sesuatu, bukan hawa nafsu. 

Kelima, mengamalkan amar makruf nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga sehingga seluruh anggota keluarga sentiasa berjalan pada landasan Islam.

Keenam, menghiasi  rumah dengan membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah, seperti membaca al-Quran, bersedekah, melakukan solat sunnah, dan sebagainya. 

Ketujuh, sentiasa berdoa kepada Allah dan bersabar dalam apa jua situasi.

Peranan Penting Keluarga 

Itulah bangunan asas untuk membentuk keluarga yang kukuh dan berideologi Islam. Lebih dari itu, bangunan keluarga tersebut akan mencapai kekuatan yang hakiki jika berjaya di dalam persekitarannya, kerana keluarga memiliki peranan yang penting dalam pembentukan sebuah masyarakat. Keluarga adalah persekitaran awal pendidikan asas bagi seorang manusia. Jika keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan sendi-sendi pendidikan yang penting, maka keluarga adalah pemberi pengaruh pertama.  Keluarga memiliki peranan strategik dalam proses pendidikan anak, bahkan umat manusia. Keluarga lebih kuat pengaruhnya dari sendi-sendi yang lain. Sejak awal kehidupannya, seorang manusia lebih banyak mendapat pengaruh dari keluarga sebab waktu yang dihabiskan di keluarga lebih banyak daripada di tempat-tempat lain. 

Pada hakikatnya, pendidikan di dalam keluarga merupakan pendidikan sepanjang hayat. Pembinaan dan pengembangan keperibadian serta penguasaan tsaqâfah Islam dilakukan melalui pengalaman hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber pembelajaran yang ada di dalam keluarga, terutama ibu dan bapanya. Keluarga adalah sebahagian dari masyarakat. Hubungan keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Nilai masyarakat yang baik dan benar akan mewarnai kehidupan keluarga; begitu juga sebaliknya kerana individu-individu yang beriman dalam keluarga yang Islamik akan menjadi benih bagi penyebaran pemikiran, perasaan dan peraturan, serta nilai Islam di tengah masyarakat. Jadi, peranan keluarga dalam masyarakat tidak boleh diabaikan. Keluarga mesti dibina dan ditegakkan di atas nilai Islam.

Begitu pentingnya pembinaan dan pendidikan di dalam keluarga, pendidikan anak sejak awal dalam keluarga akan tertanam secara kuat di dalam diri seorang anak. Sebab, pengalaman hidup pada masa-masa awal umur manusia akan membentuk ciri-ciri khas, samada dalam tubuh mahupun pemikiran, yang boleh jadi tidak ada yang dapat mengubahnya sesudah masa itu. 

Untuk itu, keluarga secara langsung ataupun tidak turut mempengaruhi jatidiri sebuah masyarakat. Dari keluargalah munculnya generasi manusia yang bermartabat, memiliki perasaan kasih sayang, dan saling tolong-menolong di antara mereka. Dengan itu, akan  terciptalah aturan kehidupan masyarakat yang kuat, yang disokong oleh keluarga-keluarga yang harmoni dan berkasih sayang kerana memiliki pemikiran ideologi Islam sebagai asasnya.

Keluarga Islam tidak boleh memisahkan diri dengan masyarakat sekelilingnya. Kita mesti berada di tengah masyarakat; mewarnai dan mengubahnya dari keadaan jauh dari Islam menjadi Islamik. Langkah inilah yang dicontohkan oleh Rasul. Rasulullah memerintahkan kita berbuat baik terhadap jiran tetangga, ertinya mesti ada interaksi yang positif dengan persekitaran tempat kita berada. Bahkan, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk menjadi orang yang membuat kebaikan, kerana Rasul bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak berbuat kebaikan (manfaat) kepada yang lainnya.”

Kepentingan Sistem Politik yang Kondusif

Akhirnya, hal penting lainnya yang tidak boleh kita abaikan dalam pembentukan keluarga yang kuat dan berideologi Islam adalah peranan sistem yang menyokong hal tersebut. Ini adalah kerana walau betapa kuatnya kita melindungi keluarga dengan idea-idea dan pemikiran-pemikiran Islam dan pembinaan yang gigih kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya, apabila sistem yang dilaksana dan dikuatkuasakan di tengah kehidupan keluarga itu tidak menggunakan peraturan-peraturan Islam, maka sukar bagi bangunan keluarga yang kukuh itu untuk bertahan. 

Ini disebabkan serangan dari luar akan senantiasa menghalang, samada dalam bentuk (i) pemikiran-pemikiran yang bertentangan yang boleh mempengaruhi tingkah laku dan moral anggota keluarga ataupun (ii) rintangan melalui ekonomi yang menyukarkan untuk memenuhi  keperluan asas anggota keluarga. Dari sinilah biasanya muncul tindakan jenayah dan lain-lain masalah sosial. Untuk itu, penataan kehidupan yang benar berkaitan dengan semua urusan masyarakat sangat diperlukan. Dengan sistem politik Islamlah semua ini boleh diwujudkan.

Sistem politik Islam memiliki kemampuan untuk memberikan penyelesaian atas semua persoalan. Sama ada persoalan individu, keluarga, ataupun masyarakat. Sistem Islam mampu membendung serangan musuh-musuh Islam di tengah-tengah kaum Muslim dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan dan aturan yang sesuai dengan peraturan Islam. Hal ini dilakukan dengan cara penerapan peraturan-peraturan Islam yang menyeluruh. Sebab, sistem politik Islam itu sendiri intinya adalah bagaimana menciptakan pengaturan urusan masyarakat sesuai dengan tuntutan syariat Islam sehingga tercipta aturan masyarakat yang baik, damai, dan sejahtera; yang dipenuhi dengan keampunan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Taala. 

Khatimah

Untuk menghalang usaha  menghancurkan  keluarga Muslim dan Islam secara umumnya, maka kaum Muslim secara bersama-sama dituntut untuk memiliki kesedaran dalam memahami Islam secara menyeluruh dalam segala aspek. Dengan begitu, kaum Muslim akan dapat memahami dan menjangkakan bahaya idea-idea asing yang bertentangan dengan Islam seperti  feminisme, kesamaan gender, emansipasi, liberalisme dan sebagainya. Pemahaman Islam seperti ini boleh kita perolehi dengan cara membina diri kita dan kaum Muslim secara terus-menerus dengan tsaqâfah Islam. 

Tsaqâfah Islam tersebut kemudiannya dijadikan sebagai acuan atau landasan untuk berhadapan dengan pelbagai pemikiran dan pemahaman asing yang menyerang. Hal ini mesti diteruskan dengan sentiasa mengikuti perkembangan berita dan fakta-fakta, kemudian memahaminya dan memberikan penyelesaian sesuai dengan Islam.  

Selain itu, penting untuk melibatkan diri secara aktif dalam usaha menyebarkan idea-idea Islam tersebut di tengah-tengah masyarakat. Ini adalah kerana membentuk keluarga yang kukuh tidak cukup dilakukan oleh individu di dalam sebuah keluarga semata-mata. Akan tetapi, hal itu juga mesti ditempuh secara politik, sistematik, dan ideologis dalam suatu gerakan yang terorganisasi secara rapi. Ini juga disebabkan kaum kafir pun, dalam menghancurkan keluarga Muslim,  melakukannya bukan hanya melalui aktiviti penyebaran idea secara individu semata, tetapi melalui sebuah gerakan yang memiliki kekuatan besar dan didukung oleh ideologi tertentu (kapitalis-sekular) di belakangnya. 

Oleh kerana itu, yang perlu menjadi agenda kaum Muslim pada masa ini untuk menghalang usaha menghancurkan keluarga Muslim adalah bagaimana menghadirkan  Islam dengan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh dalam pengaturan umat secara nyata, sama ada diperingkat individu, keluarga, masyarakat, mahupun negara. Dengan begitu, kaum Muslim boleh keluar dari kesengsaraan dan sekaligus bangkit kembali sebagai umat terbaik (khayr al-ummah), yang tegak di atas keluarga-keluarga yang kuat.

Ketika persekongkolan besar musuh-musuh Islam berjaya meruntuhkan Khilafah Islamiyah pada tahun 1924, yang masih tinggal di tengah-tengah umat Islam adalah tatacara kehidupan sosial di antara mereka, beserta hukum-hukum yang bersifat individu seperti ibadah solat, puasa, zakat, haji. Walaupun sistem pemerintahan Islam sudah hancur dengan runtuhnya Khilafah Islam, sisa-sisa budaya keIslaman masih terpelihara baik di dalam rumahtangga-rumahtangga kaum Muslim.  Pada masa kini, keluarga-keluarga Muslim menjadi harapan  tempat bersemainya kembali ideologi Islam. Keluarga dengan ayah sebagai pemimpin seluruh anggota dan ibu sebagai sumbu aktiviti dalam rumah tangga menjadi tumpuan lahirnya generasi-generasi yang kelak akan menghidupkan kembali peradaban dunia dengan Islam. Wallahu’alam bishawab


Redaktur : Gustian P.ah
Sumber   : Antara
Diberdayakan oleh Blogger.